Tahap awal untuk melakukan ternak atau budidaya cacing
tanah Lumbricus Rubellus kita
harus menyediakan media atau sarang untuk bibit cacing, media perlu diukur PH tanah dengan kertas lakmus dan
suhu dengan thermometer, untuk mengetahui ukuran PH dan suhu silahkan lihat di
sini tempat hidup cacing, apabila alat pengukur tidak ada kita dapat melakukan
pengetesan media dengan cara yang sangat sederhana, yaitu, masukkan bibit
sedikit demi sedikit, antara 5-10 ekor bibit.
Bila media atau sarang tersebut
memenuhi syarat, tidak mengandung bahan beracun, zat-zat kimia yang tidak
disukai cacing atau PH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah makacacing tidak akan mau bersarang
dan akan tetap berada dipermukaan media. Untuk mengetahui media yang memenuhi
syarat untuk hidupcacing silahkan
baca di sini media untuk cacing.
Untuk mengatasi hal tersebut,
sebaiknya media yang demikian diproses lagi (disiram air dan disaring, sampai
tidak ada air yang berwarna cokelat menetas). Ingat media harus selalu dalam
keadaan basah tetapi tidak tergenang air. Bila tidak, harus dibuatkan kembali
media yang baru.
Untuk
mengetahui apakah media sudah
memenuhi syarat atau belum bila dalam waktu 12 jam cacing tetap tenang
di dalam media, itu menandakan bahwa cacing tetap betah dan cocok
hidup di media tersebut. Kemudian hamparkan bibit cacing yang lain
secara merata di atas media. Setelah itu
tutup bak-bak tersebut dengan menggunakandaun pisang, kertas Koran atau
plastik, yang bertujuan untuk mengurangi penguapan dan sinar matahari.
Setiap bak berupa ember plastik atau
besek berukuran 50 x 40 x 30 cm dapat menampung kurang lebih 1 ons bibit cacing
atau sekitar 100-130 ekor bibit. Sebagai perbandingan, dari referensi sebuah
media (Koran) seorang peternak menebarkan bibit cacing tanah sebanyak 0,50 kg untuk bak ukuran 1 meter
persegi.
MANFAAT
Dalam
bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki
aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi
oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi
mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan
sebagai:
- Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok. - Bahan Baku Obat dan bahan
ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus. - Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik. - Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
PERSYARATAN LOKASI
- Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
- Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
- Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
- Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
- Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
- Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Penyiapan Sarana dan
Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
1.
Pemilihan Bibit Calon
Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
2.
Pemeliharaan Bibit Calon
Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
1.
pemeliharaan cacing
tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat
dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m,
panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor
cacing tanah dewasa.
2.
pemeliharaan dimulai
dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah
dipindahkan ke bak lain.
3.
pemeliharaan kombinasi
cara a dan b.
4.
pemeliharaan khusus
kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
5.
Pemeliharaan khusus
cacing dewasa sebagai bibit.
Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
Pakan Cacing Tanah
Walaupun media atau sarang juga
berfungsi sebagai sumber makanan akan tetapi dengan berkembangnya cacing perlu juga diberi makan
tambahan dan perlu diperhatiakn bahwa cacing tanahadalah binatang yang senang makanan yang ada dipermukaan
sarangnya. Cacing tanah menghabiskan makanan sama dengan berat badannya
dalam 24 jam.
Porsi
makanan yang diberikan
menggunakan pola makanan sama dengan berat badan cacing dalam 24 jam,
jika dalam satu bak terdapat 1 ons cacing, maka porsi makanan adalah 1
ons dalam 24 jam. pemberian pakan diusahakan dalam bentuk larutan/bubur,
dengan
perbandingan air: makanan = 1 : 1.
Selama sarang atau media tersebut
masih memenuhi syrata sebagai sumber makanan, makanan tambahan tidak perlu diberikan.
Tetapi biasanya setelah 1 (satu) bulan, diberikan pakan tambahan.
Pemberian makanan, yang paling
ekonomis adalah pemberian makanan yang berupa sampah organic atau sampah dapur,
kotoran ternak (ayam, sapi, kerbau, kelinci). Kotoran yang dipakai untuk pakan
sebaiknya yang sudah matang, karena kotoran yang masih segar masih mengalami
proses penguraian sehingga masih panas. Perlu didiamkan beberapa hari dulu
supaya menjadi matang. Dianjurkan memberikan makanan secara bertahap, jangan
sekaligus. Karena bila terlalu banyak bisa menyebabkan temperature menjadi naik
dan cacing tanah bisa
mati.
Untuk produksi kokon (telur), pakan
yang diberikan dapat berupa satu macam kotoran hewan yang sudah matang tanpa
campuran apapun atau kotoran hewan dengan kompos hijau (dari tanaman atau
daun-daunan) denagn perbandingan 30:70.
Untuk menghasilkan cacing tanah yang gemuk, maka
pakan harus terdiri atas kotoran hewan dicampur kompos hijauan dengan
perbandinagn 2:1 atau dapat juga diberikan kompos hijauan dengan bubur kertas
bekas, denagn perbandingan 1 : 1.
Untuk meningkatkan kualitas cacing, bahan makanan bisa ditambahkan
dari campuran dedak atau konsentrat yang juga dihancurkan. Makanan ini perlu
dihancurkan agar bercampur dengan media (lapisan) yang menjadi tempat
berkembangnya cacing.
Yang perlu diperhatikan dalam
pemberian pakan pada cacing tanah adalah sebagai berikut:
- Pakan yang berupa kotoran ternak dimasukkan ke dalam wadah kemudian dicampur dengan air dan diaduk sehingga hancur berupa bubur.
- Bubur pakan ditaburkan merata tipis-tipis diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 cm dari tepi wadah/bak tidak ditaburi pakan.
- Seluas yang ditaburi pakan ditutupi dengan plastik atau pelepah pisang yang tidak tembus cahaya.
- Lakukan pemeriksaan besoknya, apakah pakan itu habis dimakan atau tidak. Untuk pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa terlebih dahulu harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
- Pekerjaan pemberian pakan, dilakuakn tiap hari sampai cacing tanah itu dipanen
Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
Perkembangbiakkan Cacing Tanah
Cacing
tanah adalah hewan yang memiliki dua
kelamin dalam satu tubuh, jantan dan betina (hermaphrodite), akan tetapi tak
dapat membuahi dirinya sendiri. Pembuahan tidak akan terjadi tanpa adanya
bantuan cacing lain. Perkawinan dilakukan dengan cara meletakkan bagian
belakang denagn posisi yang saling berlawanan dan diperkuat dengan seta.
Pada saat itu klitelium (alat
kelamin) masing-masing mengeluarkan lendir untuk melindungi spermatozoa yang
dihasilkan oleh alat kelamin jantan masing- masing spermatozoa lalu masuk
kedalam kantung penampung sperma dari pasangannya, selanjutnya membentuk
selubung cocon (telur cacing) yang bergerak ke arah mulut.
Pada waktu melalui lubang
penampungan sperma masuklah spermatozoa ke dalam cocon dan terjadilah
pembuahan, selubung cocon harus bergerak ke arah mulut hingga terlepas dari cacing
tanah dan membentuk cocon. Cocon kemudian dilatakkan di tempat yang lembab dan
akan menetas dalam waktu 14-21 hari kemudian.
Setiap cocon menghasilkan antara 4-7
ekor cacing. Cacing tanah menjadi
dewasa setelah berumur 2-3 bulan dan siap berkembang biak. Setiap 7-10 hari cacing tanah akan menghasilkan
1-2 cocon. Diperkirakan seekor cacing tanah akan menghasilkan 1000 ekor anak
dalam setahun. Dari beberapa referensi menyebutkan perkembangbiakkan cacing tanah yang diternakkan
relative lebih produktif, berbeda dengan di alam bebas, yang banyak
mengalami gangguan binatang lain.
Cara Pemeliharaan Cacing Tanah
Cacing tanah merupakan binatang yang takut
akan sinar, karena itu wadah berupa bak harus ditempatkan pada tempat yang
teduh dan jika perlu ditutup, terutama pada siang hari. Apabila menggunakan bak
permanen sebaiknya pembuatan bak ditempat teduh, misalnya dibawah pohon
dan diberi pelindung atap genteng, supaya tidak kena hujan dan sinar matahari
langsung.
Di dalam pemeliharaan, sarang atau
media cacing tanah harus
dijaga kelembapannya, dengan cara diperciki air setiap hari. Penyiraman
diupayakan agar air tidak tergenang dan setelah itu bak-bak selelu ditutup
dengan daun pisang., plastik kertas Koran atau karung goni yang telah dibasahi.
Disamping itu, pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah menghindarkan cacing dari gangguan binatang
seperti semut, cecak, tikus, lintah, kecoa, dll.
Dengan penyiraman dan penggemburan
dapat menghindarkan cacing dari gangguan tersebut, atau bak-bak dapat ditutup
denagn kasa yang halus. Bila menggunakan bak dari ember plastic, besek yang
berada di rak tersusun, untuk menghindari semut, kaki rak diberi tatakan
(mangkok, yang diisi olie, air atau serbuk kapur anti semut).
Setelah dua minggu dari masa
peletakkan pertama, induk-induk cacing dipindahkan
ke media lain sambil menanti kokon-kokokn itu menetas. Begitu juga setiap
2 minggu berikutnya, induk-induk cacing yang sudah bertelur dipindahkan ke
media lain. Perlakuan ini juga untuk anak-anak cacing yang telah berusia 3,5
bulan dan mulai bertelur. Cara memindahkan induk cacing bisa denagn cara langsung mengaduk-ngaduk media dalam
“kandang”, bisa juga dengan meletakkan makanan di salah satu sudut kandang
hingga induk cacingakan
mudah berkumpul dan mudah dipindahkan.
Selama masa pemeliharaan, cacing-cacing itu dibagi dalam
beberapa fase.
Fase pertama : perkembangan ,
dimulai sejak kokon (telur) menetas menjadi anak cacing hingga usia 2,5 bulan
atau 3,5 bulan. Pada usia ini cacing bisa dijual untuk indukan atau bibit.
Fase kedua: usia 4 sampai 7 bulan,
yang merupakan masa produktif cacing menghasilkan kokon.
Fase ketiga : usia 7 bulan ke atas,
yang sudah tidak produktif lagi.
Cacing-cacing dalam ketiga fase itu
semuanya laku dijual dan tentu saja harganya berbeda-beda. Cacing pada fase
pertama, biasanya dikonsumsi oleh para peternak cacing untuk dijadikan
indukan. Sedangkan cacing usia fase kedua, lebih banyak dikonsumsi untuk pabrik
obat. Dan cacing usia fase ketiga dipakai untuk makanan (pellet) ikan lele.
Kalau untuk campuran bahan kosmetik, biasanya dimabil dari usia 4 bulan ke
atas, karena kadar crude oil-nya cukup baik.
Hama Cacing Tanah
Selain pemeliharaan yang telah
diuraikan diatas, ada satu hal yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan
untuk menghindari cacing dari hewan pengganggu, seperti kodok, ayam,
tikus, semut, kelabang, lintah dan lain-lain. Hama – hama tersebut dapat
menghabiskan cacing-cacing atau kokon yang ada denagn berbagai cara, sehingga
dapat menggagalkan usaha budidaya ini.
Kodok/katak
Salah satu makanan yang
disukai katak adalah cacing, yang perlu diwaspadai apabila ruangan yang
digunakan untuk beternak dihalaman yang menggunakan landing dari bak tembok,
untuk mencegah agar katak tidak dapat meloncat masuk kandang, sebaiknya kandang
diberi tutup kawat kassa dengan lubang yang agak lebar, supaya sirkulasi udara
kandang tetap terjaga, tetapi katak tidak dapat masuk ke dalam bak. Berbeda hal
nya, bila menggunakan ruangan ( iin door), hal ini kemungkinan katak masuk
rumah/ruangan sangat kecil.
Ayam
Demikian pula perlakuan untuk
menghindari agar ayam tidak dapat masuk kandang cacing, untuk bak permanen yang
tentu saja mudah bagi ayam untuk memangsa cukup aman bagi ayam untuk bisa
mengganggu.
Tikus
Baik lokasi ternak diluar maupun
didalam ruangan, kedua-duanya sangat memungkinkan bagi tikus, yang merupakan
salah satu musuh cacing tanah ini, untuk lokasi yang ada didalam ruangan,
denagn system rak susun, paling tidak akan terhindar dari seranagn tikus, namun
perlu juga dipuyakan dipinggir-pinggir lantai ruangan bisa ditaburkan
kamper/kapur barus, dengan bau kamper dapat menghindari adanya tikus. Usaha
lain dapat memasang perangkap tikus dari bahan lem atau jepitan tikus, atau
bisa juga menggunakan serbuk racun tikus.
Semut
Predator yang satu ini, memiliki
kelebihan pada penciuman, sehingga apabila ada bau cukup merangsang bagi
penciuman semut, dalam waktu yang singkat, semut-semut akan berdatangan. Namun
usaha pencegahan terhadap semut ini, relative gampang, yakni dengan cara setiap
kaki rak susun diberi tatakan plastic kenudian di isi olie atau bisa
menggunakan solar, minyak goring.
Kelabang atau lintah
Untuk menghindari hewan pengganggu
seprti kelabang dan lintah, dapat diusahakan dengan cara sering menyirami
media, dan bila perlu diatas media diberi daun tembakau.
sumber : http://akbarjayafarm.blogspot.com/2014/06/budidaya-cacing-tanah-lumbricus-rubellus.html











0 comments:
Post a Comment